oleh

Miris, Di Purwakarta Ternyata Masih Ada Generasi Penerus Bangsa Yang Tidak Mendapatkan Haknya

AIwan sedang memulung demi untuk makan dia dan kedua adiknya

TargetNews86 – PURWAKARTA

Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu. Dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal. Penggalan lirik lagu milik Iwan Fals itu sama seperti nasib yang dialami Iwan Setiawan (10), seorang anak yang menjadi pemulung untuk membantu ayahnya menghidupi kedua adiknya.

Saat ditemui di sekitaran Sadang, Purwakarta, Iwan bersama kedua adiknya, Rian (8) dan Muhammad hariawan (1,5) yang sedang memulung barang bekas di tong sampah di depan sebuah mini market.

Sejak di tinggal sang ibu meninggal, Iwan terpaksa harus membantu sang Ayah mencari barang bekas guna menghidupi kedua adiknya tersebut.

“Saya udah gak sekolah pak, dulu sih sekolah sampe kelas 3 SD. Tapi sekarang mah udah berhenti dan adik saya Rian pun cuma sampe kelas 1 SD aja karena tidak ada biaya,” ucap Iwan di hadapan redaksi, Selasa (6/11/2018).

Ia menambahkan, dirinya dan kedua adiknya tidak memiliki tempat tinggal, dan biasa bertemu sang Ayah di Stasiun kereta api Purwakarta pada sore hari.

“Kami biasa ketemu ayah pada sore hari di Stasiun, usai kami mencari barang bekas. Ayah juga sama cari barang bekas dan nanti dikumpulkan bersama, terus di jual. Hasilnya yang dipake makan kita,” ucap Iwan.

Berbekal pelastik besar warna hitam menyusuri jalan-jalan di Purwakarta. Mereka berburu kardus, plastik bekas, besi tua, dan barang bekas apa saja yang laku dijual.

Iwan dan adik-adiknya mencari barang bekas setiap hari. Mereka biasanya berjalan dari status sampai Sadang dan baru pulang sore hari, Kadang-kadang malam hari setelah pelastiknya penuh barang bekas.

Barang bekas yang mereka kumpulkan dijual seharga Rp 1.000 per kilogram. Jika beruntung, Iwan dan adik-adiknya bisa pulang membawa Rp 10.000 untuk disetorkan kepada sang Ayah. Namun, mereka lebih sering hanya mendapat Rp 5.000, tapi tak jarang ada dermawan yang memberinya uang.

Penghasilan yang mereka dapat dengan menggabungkan dengan sang Ayah, Mereka harus memenuhi kebutuhan hidup, seperti membeli nasi dan lauk pauk.

“Kalau dapat uang, saya kasih ayah untuk beli nasi dan lauk pauk untuk kita makan,” ujar Iwan dengan muka polosnya.

Sebenarnya, Iwan bercerita, dirinya ingin sekali melanjutkan sekolah, namun apa daya tak punya biaya.

“Ingin sekolah sih pak, tapi kan gak punya biaya dan saya harus mengasuh adik-adik saya,” harapnya. (Wans/Lif)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed